Keamanan siber Ibu kota baru.jpg

Keamanan siber Ibu kota baru, BSSN: Kami lihat dinamikanya

ATISI - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) akan melihat dinamika yang berkembang dalam menyiapkan sistem keamanan dan pertahanan siber di calon ibu kota baru, Kalimantan Timur.

"Tentu, ini kan baru. Kita juga melihat dinamikanya," kata Kepala BSSN Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian, usai pelantikan dan pengambilan sumpah pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan BSSN, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, BSSN pasti akan merencanakan sistem keamanan dan pertahanan siber, sebagai bagian dari lembaga pemerintah atau negara yang menangani itu.

"Kita akan menyesuaikan iramanya nanti dengan apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan pemerintah," katanya.

Yang jelas, Hinsa menegaskan BSSN pasti selalu mendukung apa yang sudah menjadi kebijakan pemerintah, sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsinya.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo mengumumkan lokasi pemindahan ibu kota Indonesia, yakni Kabupaten Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur.

Asosiasi Teknologi dan Industri Sekuriti Indonesia (ATISI) dan para pelaku industri teknologi sekuriti di Indonesia menyampaikan empat rekomendasi teknologi sekuriti untuk ibu kota baru.

Pertama, teknologi antipenyadapan dan pencurian data mutlak harus ada dalam sistem keamanan ibu kota baru, khususnya dalam hal pertahanan terhadap celah keamanan (backdoor code). "Mengingat dengan adanya backdoor code, akses ke kamera CCTV dapat diretas tanpa perlu mengetahui kata sandi lagi sehingga rentan pencurian, rekam data denah ruangan maupun aktivitas di infrastruktur strategis," kata Ketua
Umum

ATISI, Dr Sanny Suharli.

Kedua, ibu kota baru wajib memiliki sistem pertahanan keamanan siber berlapis, sebagaimana disampaikan Richard Baker, Director of Red Piranha.

Ketiga, Presiden Direktur Professtama Irwandi Salim menyampaikan bahwa idealnya perlu 100 CCTV per 1 kilometer persegi di ibu kota baru.

Keempat, kata CEO Jisung Protech Scottie Kim, perlu ada teknologi face recognition dan artificial intelligence, yang mampu mendeteksi wajah dan mencocokkan dengan database pelaku kejahatan secara akurat.

Baca juga:

ATISI Jalin Kerjasama Teknologi dengan FRI asal Tiongkok